Kuliner Sego Wiwit, Kuliner Porsi Lengkap Harga Murah

Sego Wiwit
Sego Wiwit ( twitter.com / @maiadestya)
  •  Deskripsi Kuliner.

Karena wilayah Kota Klaten yang dihimpit oleh dua kerajaan dan Kraton, yaitu di sebelah barat ada Kraton dari Kasunanan Yogyakarta, dan di sebelah timur merupakan Kraton Kasunanan Surakarta. 

Hal ini membuat Klaten erat akan kebudayaan kuliner yang khas dan beragam, seperti salah satunya adalah sego wiwit. Dalam bahasa Jawa Sego artinya nasi, sedangkan Wiwit artinya memulai.

Menurut kepercayaan warga setempat, Sego Wiwit Klaten  dibuat untuk menghormati Dewi Sri sang Dewi padi, sekaligus sebagai tanda syukur atas rezeki yang telah diberikan Tuhan.

Pada awalnya sego wiwit hanya bisa dijumpai pada tradisi slametan atau syukuran ketika para petani akan mulai menanam padi atau memanen padi. Tradisi ini dilakukan agar padi yang ditanam akan berhasil baik dan sebagai rasa syukur karena akan memanen padi.

Tetapi sekarang, sego wiwit dapat kita jumpai di warung makan atau restoran yang menyajikan masakan tradisional. Banyak variasi lauk-pauk yang bisa kita jumpai di sajian sego wiwit di berbagai restoran.

  • Bahan Kuliner.
-Nasi putih dibentuk kerucut.

-Urap.

-Ayam Goreng.

-Tempe.

-Tahu.

-Ikan asin.

-Telur rebus.

-Sambel kedeai bubuk.

  • Harga Kuliner.
Harga biasanya adalah Rp. 5.000,00

Share:

Kuliner Kepelan, Kuliner Nikmat yang Berasal dari Desa Keden




  • Deskripsi Kuliner.
Tidak lengkap rasanya bila anda pergi berwisata ke Kota Klaten tanpa ditemani hidangan kuliner cemilan khas Kota Klaten yaitu kepelan. Kepelan sendiri adalah makanan ringan  yang berasal dari Desa Keden, Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Hidangan ini menjadi lebih nikmat bila dalam kondisi hangat dan dicocol dengan saus sambal atau saus kacang.

  • Bahan Kuliner.
-Tepung terigu.

-Bawang merah.

-Bawang putih.

-Merica.

-Garam.

-Air.

-Sedikit penyedap rasa.

  • Harga Kuliner.
Rp. 5.000,00

Selain digoreng ada juga yang dibakar menyerupai sate, untuk satu tusuk berisi 4-5 buah, dengan harga:

Rp. 1.000,00



Share:

Makam Ronggo Warsito, Makam Misterius yang Dihuni Banyak Kelelawar

 


Deskripsi Singkat : 

Makam Raden Ngabehi Ronggowarsito di Dusun Kedon, Desa Palar, Kecamatan Trucuk, Klaten, Jawa Tengah. Di tempat tersebut diuni koloni kelelawar, tentu itu hal yang misterius. Itu hal yang sangat unik bukan tetapi menurut Juru Kunci (Dayat) sendiri jumlah kelelwar mungkin bisa ribuan bahkan ratusan ribu. Ukurannya lebih besar dari kelelawar biasa.

Dengan tanah berluaskan 500m2, kompleks makam tersebut dipagar tembok 2 meter. Gapura timur yaitu gapura depan dan gapura belakang menghadap ke barat. Cungkup Makam Ronggowarsito hanya memiliki ukuran 6,5mx17m.

Kenapa Kelelawar tersebut menetap di Makam?

Dikisahkan sebenarnya cungkup dihuni Burung gereja tapi, pada tahun 1970-an datanglah rombongan kelelawar itu dan menetap hingga sekarang. Perilakunya pun unik dikutip dari DetikJateng.com "Saat pukul 17.30 keluar terbang dari sarang bersamaan dan kembali pukul 04.00 arahnya pun sama." Menurut sang Juru Kunci

Tentu kelelawar begitu banyak akan meninggalkan kotoran yang tidak sedikit bahkan bisa mencapai 50 kilogram dalam 1 pekan itu pun digunakan untuk pupuk Kata Dayat sang Juru Kunci. Menurut para warga mereka penunggu cungkup, dan peliharaan eyang eyang. Kelelawar tersebut pun sudah pernah diusir berkali-kali tapi tetap saja kembali lagi "Ucap warga Setempat". 

Biografi singkat: 

Ronggowarsito ialah pujangga besar dari Keraton Surakarta. Beliau merupakan keturunan dari Yasadipura II tu Pujangga Keraton Surakarta. Jabatan tersebut di teruskan oleh sang Ronggowarsito. Karya-karyanya tersimpan pada Museum Radya PUstaka Surakarta, Reksapustaka Mangkunegaran. 

Ronggowarsito ialah putra dari Ronggowarsito II lahir pada tanggal 10 Dulkangidah tahun be 1728, wuku Sungsang. Tepatnya 15 Maret 1802. Diberi neneknya nama Bagus Burham, diasuh oleh sang Ki Tanujaya Abdi. Pada Masa Kecilnya ia sangatlah nakal dikarenakan sangat dimanjakan oleh sang nenek. Pada umur 12 ia diserahkan pada Kyai Iman Bersari. Saat dewasa pun ia mengabdi pada Keraton Surakarta yang menjadi Abdi dalem dalam bidang Kesustraan dan beliau juga mendapat gelar tertinggi karena beliau adalah Penewu Carik. Saat berusia 30 tahun ia diangkat sebagai Kaliwon Carik Kadipaten Anom serta diangkat menjadi Pujangga. Ia wafat pada 24 Desember 1873 di usianya yaitu 73 tahun 349 hari. Beliau dimakamkan di Desa Palar, Kecamatan Trucuk, Kabupaten  Klaten.

Lokasi Tempat :
Jl. Ronggowarsito No.11, Padangan, Palar, Kec. Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah 57467

Share:

Makam Kyai Gribig, Pejuang Islam dari Pulau Jawa



Deskripsi lokasi : 
Makam Sunan Gribig terletak pada  Jatinom, desa Jatinom, kecamatan Jatinom, kabupaten Klaten adalah salah satu tempat wisata religi yang berlokasi di Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.Makam Sunan Gribig terkenal di kalangan peziarah dikarenakan merupakan salah satu penyebar agama Islam yang besar dan berhasil dan juga merupakan murid dari sang Sunan Kalijaga.
Kompleks Makam Ki Ageng Gribig memiliki luas 70 m x 40 m (2.800 m2)
Serta luas yang mencapai 15m x 12m (180m2). Kompleks makam tersebut berjarak ± 9 Km dari kota Klaten. Makam (batu nisan) dari beliau sendiri memiliki panjang 2m, yang dibuat dari batu merah dan kayu. Makam itu sekarang menjadi tempat ziarah, yang biasanya ramai dikunjungi pada malam Jumat legi dan Jumat kliwon.
 
Sejarah Singkat :
Sunan Gribig sang Syekh Wasihatno, beliau adalah keturunan Brawijaya V. Beliau juga termasuk keturunan Sunan Giri. Cukup kita membahas silsilah keluarganya, Ki Ageng Gribig berdakwah pada masyarakat yang masih banyak memeluk agama Hindu-Buddha. Ia bersyiar dari Klaten hingga Boyolali dan Surakarta. Beliau sangat pandai dalam strategi dakwah, karena masyarakat masih meyakini pohon dan batu besar bisa diyakinkan sehingga beriman pada Allah SWT. Hubungan Sunan Gribig dengan Sultan Agung sangat baik bahkan sampai ingin diangkat menjadi Bupati Nayaka tetapi beliau menolak dikarenakan ingin menjadi ulama dari pada pejabat. 

Masjid Alit, ialah masjid pertama dari buah tangannya. Banyak bukti sejarah bahwa beliauy adalah ulama yang berhasil dalam dakwahnya. Contohnya seperti Gua Suran dan juga Gua Belan. Dikisahkan ular dan macan menjadi penjagannya saat ia bersemedi. 

Saat kembali dari tanah suci ia membawa oleh oleh tetapi tidak cukup dibagikan kepada penduduk setempat, dan beliau membuat kue sejenis serta disebarkan kepada masyarakat. Beliau membagikannya sambil berkata "Ya Qowiyyu" berarti "Tuhan Berilah Kekuatan" Makanan ini disebut apem berasaldari bahasa arab "Affan" yang bermakna ampunan.  Maka dari itu pula ada Sebaran Apem Yaqowiyyu. Sunan Gribig diberi sebutan tersebut karena ia suka untuk tinggal di rumah beratap gribig (anyaman daun nyiur). 

Lokasi Wisata:
Jl. Masjid Besar No.125, Suran, Jatinom, Kec. Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah 57481


 

Share:

Sebaran Apem Yaqowiyu, Tradhisi yang dikunjungi beribu orang


  •  Deskripsi Budaya.
 Sebaran Apem Yaqowiyu merupakan tradisi atau festival yang diadakan setiap bulan Sapar di Jatinom, Klaten. Trasdhisi ini merupakan salah satu tradhisi yang terkenal.  Ciri khas tradisi Yaqowiyu adalah penyebaran kue apem yang terbuat dari tepung beras. Tradisi ini berawal dari Ki Ageng Gribig yang pulang setelah menunaikan ibadah haji di kota Mekkah. Setelah itu, Ki Ageng Gribig mengamanatkan untuk mengadakan tradisi ini setiap tahunnya.

Festival Sebaran Apem Yaqowiyu digelar sangat ramai dan meriah. Biasanya bila diadakan festival tersebut tidak sedikit orang yang datang, mungkin sekitar 1000 orang. 

  • Sejarah Budaya.
Yaqowiyu merupakan sebuah tradisi yang kali pertama diperkenalkan oleh Ki Ageng Gribig. Ki Ageng Gribig adalah ulama besar di daerah Klaten dan sekitarnya yang berperan menyebarkan Islam. Tradisi Yaqowiyu bermula ketika Ki Ageng Gribig pulang dari menunaikan ibadah Haji.  Ki Ageng Gribig membawa oleh-oleh berupa kue apem dan akan dibagikan kepada saudara, murid, dan tetangganya. Namun, oleh-oleh yang dibawa Ki Ageng Gribig tidak cukup, ia kemudian meminta keluarganya untuk membuat kue apem untuk dibagikan.

 Sejak 1589 Masehi atau 1511 Saka, Ki Ageng Gribig selalu membagi-bagikan apem kepada orang-orang di sekitarnya. Mulai saat itulah, Ki Ageng Gribig mengamanatkan kepada masyarakat Jatinom, Klaten, untuk memasak sesuatu sebagai sedekah kepada masyarakat yang membutuhkan. Amanat Ki Ageng Gribig inilah yang kemudian mengawali tradisi Yaqowiyu. 

Nama Yaqowiyu Tradisi Yaqowiyu diambil dari bagian akhir doa memohon kekuatan dalam bahasa Arab, yakni yaa qowiyyu, yaa aziz, qowwina wal muslimiin, yaa qowiyyu warzuqna wal muslimiin.  Selain itu, penggunaan kue apem dalam tradisi ini memiliki maksud tersendiri. Kue Apem diambil dari kata bahasa Arab, yakni affum. Kata affum  memiliki makna maaf. Oleh sebab itu, makanan yang dibagikan dalam tradisi ini kemudian disebut dengan apem Yaqowiyu.

 Tradisi Yaqowiyu dilakukan setiap bulan Sapar dalam penanggalan Jawa. Biasanya, ribuan kue apem akan disebarkan dari panggung permanen di selatan masjid yang berada di kompleks pemakaman Ki Ageng Gribig. Masyarakat kemudian percaya bahwa kue apem Yaqowiyu dapat membawa kesejahteraan bagi mereka yang mendapatkannya. 

sumber:https://www.kompas.com/stori/read/2022/08/12/120000579/sejarah-tradisi-yaqowiyu-festival-penyebaran-kue-apem-di-klaten?page=all#page2


Share:

Candi Lumbung, Candi yang Berbentuk Seperti Tempat Penyimpanan Padi

  •  Deskripsi Wisata.
Candi Lumbung merupakan kompleks candi yang memiliki corak Buddha. Candi Lumbung diperkirakan dibangun pada awal abad ke-9 Masehi. Candi ini merupakan kumpulan dari satu candi induk yang dikelilingi oleh 16 buah candi perwara.

Nama Lumbung sendiri masih belum jelas diketahui secara pasti. Nama tersebut merupakan sebutan masyarakat di sekitarnya karena bentuknya yang mirip lumbung (bangunan tempat penyimpanan padi). Di dekat Candi Lumbung pernah ditemukan prasasti yang dikenal dengan Prasasti Kelurak. Menurut Boechari, seorang ahli epigrafi, prasasti ini berhubungan dengan pendirian Candi Sewu, mengingat adanya pendirian kirtistambha untuk Dewa Manjusri yang merupakan Dewa utama di Candi Sewu

Karena pasca gempa banyak situs candi yang mengalami kerusakan disekitar Candi Prambanan.

  • Lokasi Wisata.
 Jl. Blabak - Boyolali Tlatar, Krogowanan, Kec. Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
  • Jam Operasional.
08.00-18.00 WIB
  • Fasilitas.
-Area Parkir.
-Toilet.
  • Sejarah Wisata.
Di dekat Candi Lumbung pernah ditemukan prasasti yang dikenal dengan Prasasti Kelurak. Menurut Boechari, seorang ahli epigrafi, prasasti ini berhubungan dengan pendirian Candi Sewu, mengingat adanya pendirian kirtistambha untuk Dewa Manjusri yang merupakan Dewa utama di Candi Sewu. 

Candi Lumbung belum diketahui, apakah didirikan oleh Sri Maharaja Rakai Panangkaran seperti halnya Candi Sewu, belum dapat dijelaskan. Keadaan batu pada Prasasti Kelurak sudah sangat aus atau sudah sulit untuk dibaca, sehingga isi keseluruhannya kurang diketahui.

 Namun, secara garis besar prasasti Kelurak ini berisi tentang didirikannya sebuah bangunan suci untuk arca Manjusri atas perintah Raja Indra yang bergelar Sri Sanggramadhananjaya. Menurut para ahli, yang dimaksud dengan bangunan tersebut adalah Candi Sewu, yang terletak di Kompleks Percandian Prambanan. Nama raja Indra tersebut juga ditemukan pada Prasasti Ligor dan Prasasti Nalanda peninggalan kerajaan Sriwijaya. Prasasti ini kini disimpan dengan No. D.44 di Museum Nasional, Jakarta.

sumber:https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjateng/candi-lumbung-2/


Share:

Makam Sunan Panandaran, Sosok Besar Bagi Penyebaran Islam di Jawa Tengah

 

Deskripsi Singkat :
Makam Sunan Pandanaran terletak pada Desa Paseban, Kecamatan Bayat adalah salah satu tempat wisata religi yang berlokasi di Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.Makam Sunan Pandanaran terkenal di kalangan peziarah dikarenakan merupakan salah satu penyebar agama Islam di daerah Bayat pada saat zaman Kerajaan Demak dan juga merupakan murid dari sang Sunan Kalijaga.

Makam Sunan Pandanaran terletak di sebuah bukit, pada bagian dasarnya terdapat makam umum kemudian anak tangga menuju kompleks makam utama yang berlokasi di puncak bukit.Terdapat 2 gentong yang terdapat ukiran naga maka dari itu  disebut Gentong Sinogo di dekat gapura. Didekat Gentong Sinogo disediakan gelas untuk siapa saja yang ingin meminum air yang ada di dalam Gentong Sinogo.

Sejarah Sunan Bayat
Sunan Bayat atau disebut juga Pangeran Mangkubumi Sunan Pandanaran (II), atau Wahyu Widayat) ialah tokoh besar penyebar agama Islam di Jawa Tengah yang disebut-sebut dalam beberapa babad serta cerita lisan. Ia mempunyai hubungan dengan sejarah Kota Semarang serta awal penyebaran agama Islam di Jawa, meskipun menurut adat tradisional ia tidak termasuk sebagai Wali Sanga. Makam beliau terletak pada perbukitan "Gunung Jabalkat" di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Klaten. Dari sana lah, konon ia menyebarkan luaskan  ajaran Islam kepada para masyarakat di wilayah Mataram. Beliau hidup pada masa Kesultanan Demak tepatnya pada Abad-16.

 Ia adalah putra dari Ki Ageng Pandan Arang, bupati pertama pada kota Semarang. putranya yaitu Pangeran Mangkubumi, menggantikannya sebagai bupati Semarang kedua setelah peninggalan sang ayah. Dikisahkan, beliau memerintah dengan baik dan selalu taat pada ajaran Islam seperti ayahnya. Namun, terjadilah perubahan. Beliau yang dahulu sangat baik menjadi semakin pudar. Tugas pemerintahan sering beliau lalaikan, begitu pula mengenai perawatan tempat ibadah.

Sultan Demak Bintara, yang mengetahuinya, lalu mengutus sang Sunan Kalijaga dari untuk menyadarkan beliau. Pada akhirnya, beliau menyadari kelalaiannya, serta mengundurkan diri dari jabatannya dan menyerahkan pemerintaha Kota Semarang kepada sang adik.

Sunan Bayat kemudian berpindah ke selatan dengan isterinya, melewati daerah Salatiga, Boyolali, MojoSongo, Sela Gringging dan Wedi. Dikisahkan beliau inilah yang memberikam nama pada tempat tersebut. Beliau menetap di Tembayat sampai akhir hayatnya, yang sekarang berganti nama menjadi Bayat, Klaten, dan mendakwahkan Islam dari bayat pada para pertapa dan pendeta. Kesaktiannya mampu meyakinkan para masyarakat dan pendeta untuk memeluk agama Islam. Oleh karena itulah ia diberi julukan Sunan Bayat

Lokasi Tempat : Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Klaten. Tepatnya pada Jl. Raya Bayat - Wedi 57462 Klaten Jawa Tengah.




Share:

Panoraten

Kota Klaten

Jumlah Pengunjung

Tempat Berincang